JAKARTA - Indonesia menghadapi kenaikan harga biji kopi robusta sebesar 15% pada tahun 2025, sejalan dengan tren kenaikan harga global yang terdorong oleh perubahan iklim.
Produksi kopi terganggu oleh gelombang panas, suhu ekstrem, dan gangguan iklim lainnya, sehingga pasokan menurun sementara permintaan tetap tinggi. Kondisi ini berdampak pada petani, pedagang, dan konsumen, sekaligus memengaruhi stabilitas pasar kopi di dalam negeri.
Berdasarkan laporan Climate Central berjudul More Coffee-Harming Heat Due to Carbon Pollution, perubahan iklim telah menambah jumlah hari panas ekstrem yang merusak tanaman kopi di lima negara pemasok utama: Brasil, Vietnam, Kolombia, Ethiopia, dan Indonesia.
Kelima negara tersebut menyumbang sekitar 75% pasokan kopi dunia. Gelombang panas yang lebih sering dan intens ini memengaruhi kualitas biji kopi, hasil panen, dan harga jual di pasar domestik maupun internasional.
Indonesia sendiri menyumbang sekitar 6% dari pasokan kopi global. Namun pada 2025, tanaman kopi di Indonesia menghadapi rata-rata 129 hari panas yang merusak tanaman, meningkat 73 hari dibanding pola alami akibat pengaruh perubahan iklim. Kondisi ini membuat produksi menjadi tidak stabil, sehingga kenaikan harga tidak bisa dihindari.
Dampak Perubahan Iklim pada Produksi Kopi
Tanaman kopi membutuhkan kondisi iklim yang sangat spesifik agar tumbuh optimal. Sebagian besar kopi berasal dari wilayah “sabuk kopi”, area tropis di sekitar Garis Khatulistiwa yang memiliki suhu stabil di bawah 30°C dan curah hujan tinggi.
Ketika suhu meningkat di atas ambang batas, baik kopi robusta maupun arabika mengalami stres panas yang mengurangi hasil panen dan kualitas biji.
“Kenaikan suhu ekstrem merusak tanaman, mengurangi hasil panen, dan memengaruhi kualitas biji kopi. Dampak ini menyebar hingga konsumen, memengaruhi cita rasa dan biaya kopi setiap hari,” kata Kristina Dahl, Wakil Presiden Sains Climate Central.
Produksi kopi arabika lebih sensitif terhadap suhu ekstrem dibanding robusta. Akibatnya, pasokan kopi arabika menurun lebih tajam, sementara robusta tetap relatif stabil namun tetap mengalami kenaikan harga hingga 15% di pasar domestik. Tanpa adaptasi, harga diperkirakan akan terus meningkat seiring memburuknya kondisi iklim.
Petani Kecil Paling Terdampak
Sekitar 80% produksi kopi global berasal dari petani kecil yang memiliki lahan rata-rata di bawah 12 hektar. Mereka paling rentan terhadap gangguan iklim, karena terbatasnya akses ke pembiayaan, penyuluhan pertanian, dan informasi pasar yang adil. Padahal produksi mereka menyumbang sekitar 60% pasokan kopi dunia.
Di Indonesia, dana adaptasi iklim untuk petani kecil sangat minim. Pada 2021, hanya tersedia US$2,19 per hektare per hari, kurang dari harga secangkir kopi di banyak negara.
Kurangnya dukungan ini membuat petani kecil kesulitan menghadapi gelombang panas, penyakit tanaman, dan variabilitas curah hujan, yang berimbas langsung pada produktivitas dan pendapatan.
Selain itu, pola produksi kopi yang dilakukan secara tradisional memperbesar risiko gagal panen saat cuaca ekstrem. Jika tidak ada intervensi sistematis, petani kecil akan terus mengalami kesulitan mempertahankan volume dan kualitas produksi kopi, sehingga harga di pasar domestik dan ekspor akan terdorong naik.
Strategi Adaptasi: Agroforestri dan Tata Kelola Kebun
Menurut Yosi Amelia, Lead Program Iklim dan Ekosistem MADANI Berkelanjutan, sistem agroforestri menjadi solusi adaptasi paling efektif. Agroforestri menanam pohon peneduh di kebun kopi, menciptakan iklim mikro lebih stabil, menjaga kelembaban tanah, dan mengurangi dampak suhu ekstrem serta fluktuasi curah hujan.
Selain itu, agroforestri mendukung keanekaragaman hayati dan penyimpanan karbon. Sistem ini juga memperkuat ketahanan tanaman sekaligus meningkatkan kualitas biji kopi. Namun keberhasilan strategi ini sangat bergantung pada tata kelola perkebunan. Banyak petani kecil yang belum memiliki akses penyuluhan, pasar adil, dan pembiayaan, sehingga upaya adaptasi sering bersifat sporadis.
Pendekatan holistik dengan dukungan pemerintah, lembaga keuangan, dan organisasi masyarakat diharapkan dapat mendorong petani kecil menjalankan agroforestri secara efektif. Hal ini tidak hanya menahan kenaikan harga, tetapi juga memastikan produksi kopi tetap berkelanjutan dan kualitas biji terjaga.
Kenaikan Harga dan Implikasinya bagi Konsumen
Harga kopi global meningkat dari US$2,63 per kilogram pada 2023 menjadi US$4,86 per kilogram pada 2025, atau sekitar 45,89%. Di Indonesia, kenaikan harga robusta mencapai 15% akibat gangguan produksi dan tekanan pasokan global.
Kenaikan harga ini memengaruhi konsumen harian, terutama pemilik kedai kopi kecil dan industri pengolahan kopi. Penurunan kualitas biji akibat stres panas juga memengaruhi cita rasa, sehingga produsen terpaksa menyesuaikan harga jual.
Selain itu, jika tren pemanasan global terus berlangsung, diproyeksikan lahan yang layak untuk kopi akan berkurang hingga 50% pada 2050. Tanpa adaptasi memadai, pasokan kopi akan semakin terbatas, harga akan terus meningkat, dan kualitas biji kopi Indonesia bisa menurun signifikan.
Perlunya Sinergi Adaptasi Perubahan Iklim
Krisis iklim telah memengaruhi produksi kopi Indonesia dan global, menyebabkan kenaikan harga 15% di pasar domestik. Petani kecil paling terdampak, sementara konsumen menghadapi harga lebih tinggi. Strategi adaptasi seperti agroforestri dan pengelolaan kebun yang baik menjadi kunci.
Dukungan pemerintah, lembaga keuangan, penyuluhan, dan pasar adil sangat dibutuhkan agar produksi kopi tetap stabil, kualitas biji terjaga, dan harga tidak melonjak. Sinergi semua pihak penting untuk memastikan ketahanan sektor kopi Indonesia menghadapi perubahan iklim jangka panjang.